BLITAR - Warga Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, kembali melakukan aksi protes dengan menanam pohon pisang dan pot cor di sepanjang jalan utama desa yang rusak. Aksi tersebut dipicu belum terealisasinya janji perbaikan jalan yang sebelumnya dijanjikan pemerintah.
Pohon-pohon ditanam mulai dari depan Kantor Desa Karangrejo hingga kawasan SMP Negeri 2 Garum sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.
Bukan kali pertama warga melakukan aksi serupa. Pada April lalu, masyarakat juga menanam pohon di ruas jalan yang sama. Saat itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) disebut menjanjikan perbaikan pada Juni hingga Juli 2026. Namun, hingga akhir Juli, perbaikan belum juga terealisasi.
Kepala Desa Karangrejo, Imam Rohadi, mengatakan pihaknya telah berulang kali menyampaikan keluhan masyarakat kepada dinas terkait. Berdasarkan informasi terakhir, proses administrasi pembangunan masih berjalan dan perbaikan jalan dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 10 Agustus 2026.
Baca Juga : Jalan Rusak Bertahun-Tahun, Warga Blitar Tanam Pohon Pisang di Tengah Jalan
"Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait. Informasi yang kami terima, tahapan pembangunan masih berjalan dan perbaikan jalan direncanakan dimulai pada 10 Agustus 2026," ujar Imam Rohadi.
Tak lama setelah aksi berlangsung, personel Polsek Garum bersama Bhabinsa Karangrejo dan pihak Kecamatan Garum mendatangi lokasi. Mereka berkoordinasi dengan warga untuk menyingkirkan pohon dan pot yang dipasang di badan jalan.
Kapolsek Garum, AKP Agus Prayitno, mengatakan langkah tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan pengguna jalan sekaligus mencegah terganggunya arus lalu lintas.
"Kami berkoordinasi dengan seluruh pihak agar aksi penyampaian aspirasi tidak menimbulkan potensi kecelakaan maupun mengganggu pengguna jalan lainnya," kata AKP Agus Prayitno.
Warga berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan jalan sesuai jadwal yang telah disampaikan. Selain itu, mereka juga meminta adanya penertiban terhadap truk pengangkut material pasir dan batu yang diduga beroperasi dalam kondisi over dimension over loading (ODOL).
Menurut warga, ratusan truk bermuatan material melintasi ruas jalan tersebut setiap hari. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan yang terus berulang meski telah beberapa kali dilakukan perbaikan. (Qithfirul Aziz)
Editor : JTV Kediri



















