PROBOLINGGO - Kabut tipis perlahan turun menyelimuti kawasan Bromo. Suhu udara yang hanya berkisar 10 hingga 13 derajat Celsius menggigit kulit. Namun dinginnya malam di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu seolah luluh oleh alunan musik yang mengalun dari panggung Amphitheater Jiwa Jawa Resort, Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Gelaran Jazz Gunung Bromo 2026 kembali menghadirkan pengalaman yang tak sekadar konser musik. Selama dua hari, Jumat (24/7/2026) hingga Sabtu (25/7/2026), ribuan penonton atau yang akrab disebut Jamaah Aljazziah larut dalam harmoni musik jazz yang berpadu dengan lanskap pegunungan Bromo.
Tak terasa, perhelatan ini telah memasuki tahun penyelenggaraan ke-18. Sejak sore hari, penonton mulai memadati area amphitheater, mengenakan jaket tebal, syal, hingga kupluk untuk melawan dinginnya udara pegunungan. Namun saat musik mulai dimainkan, hawa dingin seolah terlupakan.
Malam penutupan dibuka dengan penampilan musisi mancanegara dan nasional. Simone Prattico Java Collective asal Italia serta Watchdog asal Prancis sukses menyajikan komposisi jazz yang segar dengan sentuhan improvisasi yang memikat.
Tiupan saksofon, permainan keyboard, hingga ritme drum yang dinamis membuat ribuan pasang mata terpaku ke atas panggung. Tepuk tangan panjang beberapa kali terdengar, menandai apresiasi penonton terhadap penampilan para musisi.
Puncak pertunjukan hadir saat Indra Lesmana tampil bersama Eva Celia dan Tesa Sumendra. Permainan piano khas Indra Lesmana berpadu dengan vokal Eva Celia dan Tesa Sumendra menciptakan suasana hangat di tengah udara Bromo yang menusuk.
Tak hanya itu, permainan bass dari musisi senior Barry Likumahuwa turut memikat penonton. Sejumlah lagu seperti Nostalgia, Aku Ingin, hingga Ekspresi dibawakan dengan aransemen yang memancing riuh tepuk tangan ribuan penonton.
Bagi banyak penonton, Jazz Gunung bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang pengalaman menikmati konser di alam terbuka yang sulit ditemukan di tempat lain.
Faisal, penonton asal Solo, mengaku baru pertama kali menikmati Jazz Gunung Bromo. Menurutnya, suasana pegunungan justru menjadi nilai lebih dibanding konser di dalam gedung.
"Saya tidak menyangka lagu-lagu yang dibawakan para musisi sangat bervariasi. Bahkan ada genre yang belum pernah saya dengar sebelumnya, seperti jazz metal," ujar Faisal.
Ia mengaku paling terkesan dengan penampilan Indra Lesmana yang dinilainya tetap memukau meski telah lama berkarya di dunia musik jazz.
"Penampilan Indra Lesmana luar biasa. Karyanya tetap relevan dan bisa dinikmati semua kalangan. Saya berharap tahun depan bintang tamunya Barasuara," katanya.
Hal senada disampaikan Khaliq, penonton asal Probolinggo yang mengaku selalu menyempatkan diri hadir di Jazz Gunung.
"Saya tahun lalu dan tahun ini nonton, dan memang selalu seru. Suasananya berbeda karena menikmati musik di alam terbuka dengan udara yang dingin," ujar Khaliq.
Menurutnya, kolaborasi Indra Lesmana dan Eva Celia menjadi penampilan yang paling berkesan pada malam penutupan.
"Penampilan Indra Lesmana dan Eva Celia benar-benar menghangatkan suasana. Harapan saya tahun depan bintang tamunya Sheila On 7," imbuhnya.
Sementara itu, pada hari pertama penyelenggaraan, Jazz Gunung Bromo juga menghadirkan sederet musisi ternama, di antaranya Batavia Collective, Ring of Fire featuring Simone Prattico dari Italia, hingga penampilan memukau Isyana Sarasvati.
Selama dua hari penyelenggaraan, Jazz Gunung Bromo kembali membuktikan bahwa musik mampu menyatu dengan alam. Di tengah dinginnya udara pegunungan, setiap nada yang mengalun menjadi kehangatan yang menyatukan ribuan penonton dalam satu panggung, satu irama, dan satu pengalaman yang sulit dilupakan. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















