Mengetik mungkin terdengar sederhana, namun keterampilan ini menjadi tulang punggung komunikasi di era digital. Setiap tanggal 8 Januari, dunia memperingati World Typing Day atau Hari Mengetik Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengapresiasi keterampilan mengetik yang kini tak terpisahkan dari kehidupan profesional dan aktivitas digital masyarakat modern.
Peringatan Hari Mengetik Sedunia tidak lepas dari sebuah peristiwa penting di kawasan Asia Tenggara. Pada tahun 2011, Malaysia menjadi tuan rumah lomba mengetik internasional bertajuk Malaysian Speed Typing Contest.
Ajang tersebut mengukir dua rekor nasional, yaitu pengetik tercepat dan jumlah peserta terbanyak. Sejak itu, tanggal 8 Januari ditetapkan sebagai hari untuk merayakan keterampilan mengetik.
Di tengah maraknya pesan suara dan video, mengetik tetap menjadi cara paling efektif untuk menyampaikan ide secara jelas dan terstruktur. Dari email kantor, laporan sekolah, hingga konten media sosial, mengetik adalah identitas digital yang melekat pada setiap orang.
Mesin ketik pertama kali ditemukan oleh Christopher Latham Sholes pada 1868 dengan tata letak QWERTY yang masih digunakan hingga kini. Penulis besar seperti Mark Twain dan Ernest Hemingway pun menorehkan karya-karya mereka lewat mesin ketik.
Hari Mengetik Sedunia bukan sekadar nostalgia mesin ketik, melainkan pengingat bahwa keterampilan menulis dan mengetik adalah fondasi komunikasi modern. Mengetik bukan hanya penunjang, melainkan kunci utama kinerja dan kualitas kerja di era digital.
Di tengah derasnya arus informasi, mengetik tetap menjadi cara paling sederhana namun kuat untuk menyampaikan gagasan melalui tulisan. (*)
Editor : A. Ramadhan



















