Langit Indonesia dipastikan tidak akan menjadi panggung Gerhana Bulan Sebagian pada (28/08/2026). Bagi masyarakat yang sudah menanti fenomena astronomis tersebut, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, ada alasan ilmiah di balik mengapa Bulan yang mengalami gerhana tidak tampak dari wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi Gerhana Bulan Sebagian terjadi pada Jumat, (28/08/2026). Fenomena ini berlangsung secara global selama sekitar 5 jam 38 menit. Fase awal dimulai pukul 08.23.55 WIB, ketika Bulan memasuki bayangan penumbra Bumi. Gerhana sebagian dimulai pukul 09.33.48 WIB, mencapai puncak pukul 11.14.04 WIB, lalu berakhir pada pukul 12.51.55 WIB. Seluruh rangkaian selesai pukul 14.01.41 WIB.
Mengapa Gerhana Tidak Terlihat dari Indonesia?
Masalahnya bukan gerhana tidak terjadi, melainkan posisi Bulan terhadap wilayah pengamat. Saat seluruh rangkaian berlangsung, Indonesia berada pada pagi hingga siang hari dan Bulan berada di bawah ufuk. Artinya, Bulan berada di sisi Bumi yang tidak menghadap langit Indonesia sehingga fenomena tersebut tidak dapat diamati secara langsung.
Baca Juga : Tertutup Awan, Gerhana Bulan Total Tidak Terlihat di Surabaya
Secara sederhana, gerhana Bulan terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris saat fase purnama. Bumi kemudian menghalangi sebagian cahaya Matahari yang seharusnya mencapai Bulan. Pada gerhana sebagian, hanya sebagian permukaan Bulan yang masuk ke dalam umbra atau bayangan inti Bumi. Bagian tersebut akan tampak lebih gelap dibandingkan bagian Bulan lainnya.
Selain umbra, terdapat penumbra, yaitu bayangan luar Bumi yang lebih samar. Inilah sebabnya rangkaian gerhana memiliki beberapa tahap, meskipun perubahan pada fase penumbra sering lebih sulit dikenali oleh mata.
Menurut NASA, Gerhana Bulan Sebagian 27-28 Agustus 2026 dapat diamati dari Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia Barat. Data tersebut sejalan dengan informasi BMKG bahwa Indonesia berada di luar wilayah visibilitas. Meski tidak dapat menyaksikannya dari halaman rumah, masyarakat Indonesia tetap dapat mengikuti fenomena tersebut melalui siaran langsung kanal resmi NASA. Pengamatan gerhana Bulan juga aman dilakukan tanpa pelindung mata khusus, berbeda dengan gerhana Matahari yang memerlukan perlindungan mata.
Bagi pembaca yang ingin memahami fenomena ini, kuncinya terletak pada satu hal: gerhana bukan hanya soal kapan terjadi, tetapi juga dari mana peristiwa itu dilihat. Jalur visibilitas ditentukan oleh posisi Bulan, rotasi Bumi, dan waktu setempat. Karena itu, fenomena yang berlangsung di langit wilayah lain dapat sama sekali tidak terlihat di Indonesia. (Naswa Thalita Zada)
Editor : Iwan Iwe

















