Tren pariwisata saat ini terus mengalami pergeseran. Wisatawan tak lagi sekadar berburu pemandangan indah, tetapi juga mencari pengalaman autentik, aksesibel, dan layak diunggah ke media sosial (instagrammable).
Di tengah perubahan tersebut, dua desa wisata unggulan di Jawa Timur membuktikan bahwa kearifan lokal tetap relevan jika dikelola dengan strategi yang tepat, yakni Desa Wisata Bejijong di Kabupaten Mojokerto dan Desa Wisata Sanankerto Bonpring di Kabupaten Malang.
Mengusung julukan Heart of Majapahit, Desa Wisata Bejijong menawarkan pengalaman sejarah yang ikonis. Di sini, pengunjung dapat menapaki jejak Kerajaan Majapahit melalui sejumlah cagar budaya, seperti Patung Buddha Tidur terbesar ketiga di Asia, Makam Raden Wijaya di kompleks Siti Inggil, Candi Brahu, hingga 198 unit Rumah Majapahit yang 50 di antaranya difungsikan sebagai homestay.
Tidak hanya arsitektur bersejarah, Bejijong juga menyajikan wisata edukasi seperti kerajinan cor kuningan, membatik, hingga kuliner khas ayam ungkep kemaron.
Baca Juga : Dua Desa Wisata Unggulan Jatim Hadirkan Pengalaman Autentik
Rintisan desa wisata ini dimulai sejak 2016 dan memperoleh Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata pada 2021. Keberhasilan ini dicapai melalui pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor, termasuk pendokumentasian sejarah bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta pendampingan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair).
"Menginap di Rumah Majapahit memberikan suasana kampung kuno lengkap dengan sajian masakan rumahan khas warga setempat, di mana desain bangunannya telah dikaji secara filosofis bersama para akademisi."
Berbeda dari Bejijong yang menonjolkan warisan sejarah, Desa Wisata Sanankerto Bonpring (Kebon Pring) di Malang menawarkan kekayaan ekowisata. Kawasan ini menjadi rumah bagi 112 jenis bambu yang tersebar di Arboretum Bambu—salah satu koleksi bambu terlengkap di Indonesia.
Baca Juga : Empat Hari Berjuang, Tim Gabungan Berhasil Jangkau Satu Titik Api di Gunung Biru Mojokerto
Keberadaan hutan bambu ini tercatat sejak tahun 1910 saat desa pertama kali menugaskan waker (penjaga hutan). Kini, ekosistem tersebut menghidupi perekonomian warga di dua kecamatan dan enam desa sekitarnya.
Pengembangan Bonpring berawal dari gerakan konservasi sumber air pada 2014 sebelum resmi menjadi destinasi wisata pada 2016 lewat pendekatan pentahelix (pemerintah, akademisi, media, komunitas, dan pelaku usaha).
Wisatawan dapat menyusuri danau dengan perahu, menikmati kuliner olahan rebung bambu tabah hasil riset bersama Universitas Udayana, berbelanja di Pasar Wisata, hingga mengunjungi Living Museum Bambu.
Baca Juga : Marak Tragedi Bunuh Diri di Jawa Timur, Psikolog Ingatkan Media dan Netizen Waspadai ‘Werther Effect’
Kedua desa wisata ini memiliki benang merah yang sama dalam mempertahankan daya tarik, yakni kolaborasi berkelanjutan dan regenerasi.
- Desa Bejijong memperkuat kelembagaan melalui kerja sama dengan sembilan perguruan tinggi, pelatihan hospitality bersama Universitas Surabaya (Ubaya), serta penetapan Peraturan Desa (Perdes) agar pengembangannya tidak terpengaruh pergantian kepemimpinan.
- Desa Sanankerto memperkuat identitas ekowisata berbasis konservasi di bawah naungan BUMDes melalui program edukasi bambu bagi pelajar, serta menargetkan Bonpring menjadi destinasi wisata bambu berstandar internasional.
Kedua desa ini juga menyediakan paket wisata terjangkau untuk segmen pelajar hingga keluarga guna merespons dinamika ekonomi wisatawan saat ini.
Daya tarik kedua destinasi ini semakin lengkap dengan hadirnya program Jelajah Wisata Jatim Berhadiah 2026 yang berlangsung pada 22 Juni hingga 31 Desember 2026. Melalui aplikasi JTVHub, wisatawan dapat mendaftar untuk mendapatkan e-paspor digital, mengunggah bukti kunjungan ke destinasi terdaftar, serta berkesempatan memenangkan paket wisata gratis. (Nailatuz Zahro)
Baca Juga : Rempon yang Terbuka dan yang Rahasia
Editor : Iwan Iwe



















