KABUPATEN MADIUN - Meninggalkan pekerjaan formal di ibu kota bukan berarti harus meninggalkan mimpi. Galih Tirtayasa, pemuda asal Ngawi, justru memilih pulang ke daerah dan menekuni usaha kerajinan dengan memanfaatkan klobot atau kulit jagung kering menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Berlokasi di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Galih memproduksi beragam bunga hias berbahan klobot jagung. Usaha tersebut bermula pada 2018, saat kerajinan itu masih ditekuninya sebagai hobi di kamar kos ketika dirinya masih bekerja di Jakarta.
Ide memanfaatkan kulit jagung muncul setelah Galih mendengar kabar mengenai musim panen jagung di kampung halaman. Melihat limbah pertanian tersebut masih bisa dimanfaatkan, ia kemudian mulai mengembangkan kerajinan dengan mengikuti tren dekorasi bergaya rustic yang berkembang pada 2019.
Melihat peluang yang semakin terbuka, Galih akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan formal dan fokus mengembangkan usaha kerajinan dari Kabupaten Madiun. Sejak 2019, ia memanfaatkan platform digital dan marketplace untuk memasarkan produknya.
Baca Juga : Produksi Kerajinan Anyaman Tas Plastik Ngawi Tembus Pasar Luar Jawa
Strategi pemasaran tersebut mulai membuahkan hasil. Pada 2021, pesanan rutin mulai datang setiap hari dan produknya mampu menjangkau konsumen di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Bali, hingga Sulawesi Utara.
Galih kini mampu memproduksi sekitar 50 tangkai bunga per hari. Produk yang dibuat juga semakin beragam, mulai dari bunga hias, vas, hiasan meja, hingga pernak-pernik seserahan.
Harga produknya cukup terjangkau, mulai dari Rp2.500 hingga Rp30 ribu. Dengan mengandalkan pemasaran digital dan tanpa membuka toko fisik, Galih mampu meraih omzet sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan.
Baca Juga : Berawal dari Cinta Seni, Bayu Raup Jutaan Rupiah dari Kerajinan Barongan
“Awalnya saya membuat kerajinan ini sebagai hobi. Kemudian melihat kulit jagung yang banyak tersedia di kampung, saya mencoba memanfaatkannya menjadi produk yang memiliki nilai jual. Setelah dipasarkan melalui digital, ternyata peminatnya semakin luas,” ujar Galih Tirtayasa, perajin klobot jagung.
Permintaan terhadap kerajinan klobot jagung terus berdatangan. Dalam sehari, pesanan yang masuk bahkan bisa mencapai lebih dari 20 paket.
Namun, Galih membatasi jumlah pengiriman sekitar 10 paket per hari. Pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas produk karena seluruh proses produksi hingga pengemasan masih dikerjakan seorang diri.
Selain mengembangkan pemasaran melalui platform digital, Galih juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Madiun melalui kemudahan pengurusan legalitas usaha.
Dukungan tersebut di antaranya berupa kemudahan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis, serta izin edar BPOM untuk mendorong pelaku UMKM agar mampu bertahan dan berkembang.
Bagi Galih, pemanfaatan klobot jagung menjadi kerajinan membuktikan bahwa limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi produk kreatif dan menghasilkan pendapatan.
“Yang awalnya hanya dianggap limbah ternyata bisa menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi. Sekarang produk ini bisa dipasarkan ke berbagai daerah, jadi peluang usaha sebenarnya tidak harus selalu dicari di kota besar,” tambahnya.
Kisah Galih menjadi bukti bahwa kreativitas dan pemanfaatan teknologi digital dapat membuka peluang usaha dari daerah. Dengan mengolah potensi yang ada di sekitar, bahan sederhana seperti kulit jagung pun dapat berubah menjadi produk bernilai dan menembus pasar Nusantara.
Editor : JTV Madiun



















