KOTA MALANG - Suasana Lapangan Rampal, Kota Malang, semakin meriah saat Bams naik ke panggung puncak peringatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026, Sabtu (31/10/2026) malam. Mantan vokalis grup band Samsons tersebut mengajak pengunjung bernostalgia melalui sejumlah lagu yang pernah populer pada era 2000-an.
Penampilan Bams menjadi salah satu daya tarik dalam Financial Festival 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK). Kehadirannya sekaligus menutup rangkaian festival yang memadukan hiburan, edukasi keuangan, dan pemberdayaan UMKM.
Sebelum penampilan musik, sejumlah agenda turut mewarnai puncak kegiatan. Mulai dari seremoni capaian Bulan Inklusi Keuangan 2026, penyerahan kredit secara simbolis kepada pelaku UMKM, hingga pemberian penghargaan kepada para pemenang kompetisi BIK.

Panitia juga menghadirkan ajang unjuk bakat BIK Financial Idol, pembagian hadiah bagi pengunjung, serta program sosial FinFest Care berupa penyaluran santunan kepada kelompok masyarakat rentan. Hadiah utama berupa sepeda motor turut disiapkan untuk menambah antusiasme pengunjung.
Di balik kemeriahan tersebut, OJK Malang menegaskan bahwa Bulan Inklusi Keuangan bukan sekadar agenda hiburan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan literasi masyarakat agar semakin cerdas dalam mengelola keuangan dan memahami produk jasa keuangan.
Kepala OJK Malang, Farid Falatehan, mengatakan masyarakat perlu memiliki pemahaman yang cukup sebelum menggunakan produk maupun layanan keuangan. Salah satu prinsip yang harus diterapkan adalah 2L, yakni legal dan logis.
“Kita harapkan yang pertama dengan Bulan Inklusi Keuangan ini kita tingkatkan literasi. Harapannya nanti masyarakat itu lebih cerdas mengelola keuangan, lebih bijak menata keuangan, dan lebih paham terhadap produk keuangan. Tentunya dengan 2L, legal dan logis,” ujar Farid.

Ia menjelaskan, prinsip legal berarti masyarakat harus memastikan lembaga jasa keuangan yang digunakan memiliki izin dan berada dalam pengawasan otoritas terkait. Sementara prinsip logis mengajak masyarakat bersikap kritis terhadap penawaran keuntungan yang tidak masuk akal.
Farid menyebut berdasarkan survei yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tingkat inklusi keuangan masyarakat mencapai sekitar 93 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada di kisaran 69 persen.
Kesenjangan itu menjadi tantangan dalam memperluas edukasi keuangan. Terlebih, masyarakat juga masih dihadapkan pada berbagai ancaman penipuan, baik melalui modus digital maupun sambungan telepon.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turut mengapresiasi penyelenggaraan puncak Bulan Inklusi Keuangan 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal sekaligus memanfaatkan berbagai produk dan layanan keuangan.
“Banyak hal yang sudah disampaikan dan termasuk keperluan yang sudah mencapai taraf sangat baik. Ini ada respons juga dari masyarakat, termasuk mereka yang memanfaatkan produk-produk keuangan,” ujar Wahyu.

Ia berharap kolaborasi antara Pemerintah Kota Malang dan OJK terus diperkuat untuk meningkatkan literasi serta memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
“Kita juga harus cermat dan bijak dalam literasi maupun inklusi. Kita akan sama-sama dengan OJK mencari di mana permasalahannya agar kita carikan solusinya, supaya ada kolaborasi yang baik untuk memperkecil celah-celah tersebut,” tambahnya.
Melalui Financial Festival 2026, OJK Malang berharap masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang aman, cerdas, dan bijak. Penampilan Bams pun menjadi penutup meriah rangkaian puncak Bulan Inklusi Keuangan tahun ini. (Ali)
Editor : JTV Malang





















