MAGETAN - Keterbatasan air selama musim kemarau mendorong petani di Desa Randugede, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, mengubah pola tanam. Sebagian petani yang sebelumnya menanam jagung kini beralih ke ubi jalar karena dinilai lebih tahan terhadap cuaca panas dan tidak membutuhkan banyak air.
Peralihan tanaman ini dilakukan untuk menyesuaikan kondisi lahan yang mengalami keterbatasan pengairan. Petani harus mempertimbangkan ketersediaan air sebelum menentukan komoditas yang akan dibudidayakan agar tanaman tetap dapat tumbuh di tengah musim kemarau.
Meski lebih sesuai dengan kondisi lahan, pilihan menanam ubi jalar menghadapi tantangan berupa penurunan harga jual. Saat ini, harga ubi jalar di tingkat petani berkisar Rp3.000 per kilogram, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp5.000 per kilogram.
Di sisi lain, harga jagung berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan ubi jalar, tetapi kebutuhan air untuk budidaya jagung menjadi kendala bagi petani ketika pasokan air terbatas.
Baca Juga : Tak Perlu ke Jepang, Jalan Desa Candirejo Magetan Disulap Pesona Tabebuya
Kondisi ini membuat petani harus mempertimbangkan dua hal sekaligus, yakni kemampuan tanaman bertahan di tengah kemarau dan potensi pendapatan dari hasil panen. Bagi petani di Desa Randugede, pemilihan jenis tanaman menjadi salah satu upaya agar kegiatan pertanian tetap berjalan meski menghadapi keterbatasan air dan perubahan harga jual hasil panen.
Editor : JTV Madiun



















