Kelompok BBK-KKN 8 Universitas Airlangga (Unair) menggelar sosialisasi pembuatan pupuk kompos dari limbah organik rumah tangga di Desa Cangakan, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mengajak warga memanfaatkan limbah dapur, seperti sisa sayuran dan kulit buah, menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan. Selain mengurangi volume sampah rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), kompos juga dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah.
Perwakilan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ngawi, Wahyu, yang menjadi narasumber dalam kegiatan itu mengatakan limbah organik rumah tangga memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan baik.
"Kami ingin masyarakat tahu bahwa limbah sayuran dari dapur sebenarnya bisa diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat. Dengan begitu, warga tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga bisa memanfaatkan hasilnya untuk tanaman di sekitar rumah," ujarnya.
Sosialisasi berlangsung interaktif dengan demonstrasi pembuatan pupuk kompos menggunakan metode sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan rumah. Peserta mendapatkan penjelasan mulai dari proses pemilahan bahan organik hingga tahap fermentasi.
Mahasiswa BBK-KKN 8 Universitas Airlangga, Mohamad Abdillah Fajar, mengatakan program tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membantu masyarakat menghemat biaya.
"Dengan membuat pupuk sendiri, warga bisa menghemat biaya pertanian sekaligus menjaga kebersihan lingkungan," katanya.
Melalui kegiatan ini, BBK-KKN 8 Universitas Airlangga berharap masyarakat semakin sadar pentingnya mengelola limbah organik secara mandiri. Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 tentang air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan semangat kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan Balai Penyuluhan Pertanian diharapkan mampu menjadikan Desa Cangakan sebagai contoh desa yang mampu mengolah limbah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan maupun kebutuhan sehari-hari.


















