BANGKALAN - Kejelian melihat peluang pasar internasional membawa Warisatul Hasana, warga Klampis, Bangkalan, menciptakan batik tulis aroma terapi yang kini menembus pasar dunia. Usaha yang dirintis sejak 2008 itu berkembang pesat berkat ketekunan, inovasi, dan keberaniannya menjawab kebutuhan pasar global.
Warisatul Hasana mengungkapkan bahwa proses kreatifnya tidak selalu mulus. Ia bercerita bahwa pelajaran berharga ia dapatkan dari pengalaman pertamanya menawarkan batik di Australia pada Agustus 2008.
“Pertama kalinya, saya menawarkan batik ini di Australia pada tahun 2008. Tapi batik saya ditolak,”ujar Warisatul Hasana , Selasa (18/11/2025)
“Mereka tidak suka baunya. Katanya wangi minyak tanah, bau malam yang menyengat. Dari tingkat kebersihannya, lilinnya masih ada, pewarnanya masih nempel.”
Selain masalah aroma dan kebersihan, motif dan warna batik Madura saat itu dinilai belum sesuai dengan selera pasar Australia. Penolakan itu menjadi titik balik bagi Warisatul.
“Akhirnya saya pulang ke Indonesia dan melakukan riset. Muncul ide untuk membuat batik yang bersih dan wangi rempah Indonesia,”tuturnya.
Ide aroma terapi muncul setelah Warisatul mengunjungi sebuah museum di Australia, di mana ia melihat ukiran kepala kijang dari kayu cendana yang menjadi koleksi istimewa.
“Saya bertanya, kenapa ini diistimewakan? Mereka bilang karena kayu ini bisa wangi, dan itu unik,”katanya.
“Saya berpikir, kalau cendana bisa berharga karena wangi, bagaimana kalau batik saya wangi cendana? Mungkin batik saya juga akan berharga.”tambahnya.
Dari gagasan itu lahirlah batik aroma terapi, yang kini telah menembus pasar Australia, Malaysia, Thailand, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya. (Moch. Sahid/Hsn)
Editor : JTV Madura



















